Tampilkan postingan dengan label Kesempurnaan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesempurnaan Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

Haji Mabrur dan Ciri-cirinya

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra disebutkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Beliau ditanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.” Beliau kembali ditanya, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab lagi, “Haji mabrur.” (Muttafaq ‘alaih).
Hadits ini sejatinya telah cukup menjadikan setiap Muslim untuk selalu mempertahankan keimanannya yang lurus kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, selalu merindukan bisa berjihad di jalan-Nya serta selalu merindukan bisa menunaikan ibadah haji minimal sekali selama hidupnya. Khusus terkait ibadah haji, kebanyakan Muslim bukan hanya rindu, tetapi juga banyak yang bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk bisa mewujudkan kerinduannya itu, yang sejatinya menjadi mimpi sekaligus salah satu cita-citanya itu. Karena itulah, tidak aneh jika, misalnya, banyak yang kemudian menabung bertahun-tahun demi mewujudkan mimpi dan cita-citanya beribadah haji ke Tanah Suci.
Khusus bagi seorang Muslimah, pahala ibadah haji disetarakan dengan pahala jihad di jalan Allah SWT. Bahkan bagi Muslimah, ibadah haji adalah ‘jihad’ yang paling utama. Dalam hal ini Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amalan yang paling utama. Bolehkah kami berjihad?” Baginda Rasulullah SAW, “Akan tetapi, jihad yang paling utama (bagi kaum Muslimah, pen.) adalah haji mabrur.” (HR al-Bukhari).
Begitu utamanya, ibadah haji akan menghapuskan dosa-dosa pelakunya sehingga ia seperti bayi yang baru lahir alias tidak memiliki dosa. Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra. “Siapa saja yang menunaikan ibadah haji, sementara di dalamnya dia tidak berbuat dosa dan kefasikan, maka dia akan kembali seperti pada hari saat ia dilahirkan oleh ibunya.” (Muttafaq alaih).
Baginda Rasulullah SAW juga pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Amr bin al-‘Ash, “Siapa saja yang datang (Ke Baitullah) untuk menunaikan ibadah haji ikhlas semata-mata karena Allah, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, dan Allah akan memberikan syafaat kepada orang-orang yang dia doakan.”
Ibn Abbas ra menuturkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pun pernah  bersabda, “Siapa saja yang memasuki Baitullah, dia masuk dalam satu kebajikan dan keluar dari suatu keburukan dan dia akan diampuni.” (HR Ibn Khuzaimah).
Jabir bin Abdillah ra menuturkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Siapa saja yang telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji, lalu kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.” (HR Abu Ya’la)  (Lihat: Al-Qabuni, Basyarah al-Mahbub bi Takfir adz-Dzunub, I/10-11).
Lebih dari itu, Baginda Rasulullah SAW bahkan turut mendoakan orang-orang yang beribadah haji. Baginda Rasulullah SAW pernah berdoa khusus bagi orang-orang yang beribadah haji, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Ya Allah, ampunilah orang yang menunaikan ibadah haji dan ampunilah siapa saja yang memintakan ampunan untuk dirinya.” (HR ath-Thabrani dan Ibn Khuzaimah). Doa beliau tentu saja pasti dikabulkan oleh SWT.
Keutamaan lain ibadah haji tentu saja karena bisa mengantarkan pelakunya masuk surga. Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Dari satu ibadah umrah ke ibadah umrah yang lain menjadi kafarat (penghapus dosa) di antara keduanya. Adapun haji mabrur tidak ada balasan (bagi pelakunya) kecuali surga.” (Muttafaq ‘alaih).
Lalu apa tanda atau ciri-ciri dari haji mabrur itu? Haji mabrur bisa dikenali tandanya saat ibadah haji itu ditunaikan. Disebutkan bahwa haji mabrur adalah orang yang saat menunaikan ibadah haji tidak melakukan kemaksiatan apa pun. (Lihat: Imam an-Nawawi, Riyadh ash-Shalihin, I/41)
Ciri lain haji mabrur ditegaskan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Haji mabrur itu tidak ada balasannya selain surga.” Rasul SAW  kemudian ditanya, “Apa ciri haji mabrur itu.” Beliau menjawab, “Selalu berkata-kata yang baik dan biasa memberi makan (kepada orang-orang yang membutuhkan, pen.). (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, II/39).
Menurut Imam al-Ghazali, ciri-ciri haji mabrur itu adalah pelakunya (saat kembali dari menunaikan ibadah haji) menjadi orang yang zuhud terhadap dunia, selalu rindu terhadap akhirat (surga) dan senantiasa berusaha mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah Pemilik Ka’bah setelah berjumpa dengan Ka’bah (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, I/272).
Semoga kita bisa meraih keutamaan haji mabrur. WalLahu a’lam bi ash-shawab. [] abi

Menjemput Ampunan Allah SWT


(Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-42)
قَالَ اللهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, sungguh selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, Aku mengampuni dosa-dosamu dan tidak Aku pedulikan lagi.  Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai menyentuh langit, kemudian engkau meminta ampunan-Ku, niscaya Aku mengampuni kamu dan tidak Aku pedulikan lagi.  Wahai anak Adam, sungguh seandainya engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan (dosa) hampir memenuhi bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepada kamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi, ad-Darimi, adh-Dhiya’ dan ath-Thabari).
Hadis ini memberikan panduan bagaimana menjemput ampunan Allah SWT. Hadis ini menjelaskan perkara sangat penting,  yakni tiga sebab untuk meraih ampunan Allah SWT.  Pertama: doa disertai harapan—mâ  da’awtanî wa rajawtanî.  Allah SWT juga berfirman:
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (QS al-A’raf [7]: 56).
Dalam berdoa hendaknya diperhatikan adab-adab berdoa, di antaranya yang sudah dijelaskan dalam syarh al-Arba’un hadis ke-10. Di antaranya: menggunakan seruan: ya Rabb, alLâhumma, atau asmâ’ al-husna; didahului dengan amal shalih; menampakkan kerendahan dan ketundukan di hadapan Allah SWT.  Diiringi dengan menjauhi penghalang pengabulan doa di antaranya: makan, memakai dan membelanja-kan harta haram; doa disertai kezaliman, maksiat atau memutus silaturrahim.
Doa disertai harapan itu juga hendaknya memenuhi syarat-syaratnya. Di antara syaratnya yang penting adalah hadirnya hati dan keyakinan doa akan diijabah.  Nabi saw. bersabda:
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ الله لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
Berdoalah kalian kepada Allah, sementara kalian merasa yakin diijabah. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak menjawab doa yang berasal dari hati yang lalai dan main-main atau sibuk dengan selain Allah (HR at-Tirmidzi dan al-Hakim).
Kedua: istighfar.  Meski dosa hamba itu sangat banyak hingga menyentuh langit sebagai kiasan karena banyaknya dosa itu, jika hamba tersebut ber-istighfar kepada Allah SWT, sesuai hadis di atas, niscaya Allah ampuni (Lihat: QS an-Nisa [4]: 110).
Lebih dari itu, Allah SWT memerintahkan kita untuk ber-istighfar memohon ampunan kepada-Nya, seperti dalam QS al-Baqarah [2] : 199 dan Hud [11]: 3.  Di antara karakter orang yang bertakwa, apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, ia mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Allah SWT (QS Ali Imran [3]: 135).
Istighfar hendaknya diperbanyak.  Nabi saw. yang maksum/bebas dari dosa saja ber-istighfar dalam sehari lebih dari 70 kali (HR al-Bukhari), atau sebanyak 100 kali (HR Muslim).
Yang afdhal dalam ber-istighfar dimulai dengan memuji Allah SWT, lalu mengakui dosa, kemudian meminta kepada Allah SWT ampunan.  Rasul saw. bersabda:
سَيِّدُ اْلاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى، لاَ إِلَه إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِ كَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِى، فَاغْفِرْلِى، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
Penghulu istighfar adalah engkau mengucapkan, “Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tiada tuhan kecuali Engkau; Engkau menciptakan aku dan aku hamba-Mu. Aku akan menetapi perjanjian dan janji-Mu sebatas kemampuanku. Aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku. Aku pun mengakui dosaku kepadamu. Karena itu ampunilah aku karena sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau (HR al-Bukhari, an-Nasai, at-Tirmidzi dan Ahmad).
Di antara redaksi istighfar yang dicontohkan dalam hadis, banyak juga yang disambungkan dengan pernyataan tobat kepada Allah. Hal itu juga diisyaratkan di dalam al-Quran (QS Hud: 3).  Hanya saja, istighfar dan tobat itu harus diiringi dengan berhenti dari kemaksiyatan yang dilakukan. Jika tidak, justru kecelakaanlah yang didapat.  Rasulullah saw. bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِّيْنَ يُصِرُّوْنَ علَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Celakalah orang-orang yang terus saja melakukan dosa yang mereka lakukan, sementara mereka tahu (HR Ahmad).
Bahkan Ibn Abiy ad-Dunya mengeluarkan riwayat marfu’ dari Ibn Abbas:
اَلتَائِبُ مِنَ الذَّنْب كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ، وَالْمُسْتَغْفِرُ مِنْ ذَنْبٍ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَيْهِ كَالْمُسْتَهْزِيْءِ بِرَبِّهِ
Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa. Orang yang beristighar dari dosa, sementara ia terus melakukan dosa, adalah seperti orang yang mengolok-olok Rabb-nya.
Ketiga: tauhid. Ini adalah sebab terbesar.  Allah SWT menegaskan (QS an-Nisa’ [4]: 48), tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah akan mengampuni dosa apapun selain syirik, tentu kalau hamba ber-istighfar dengan memenuhi sebab dan syaratnya dan kosong dari penghalang ampunan.  Dengan demikian, dalam hadis di atas, Allah SWT menyatakan jika seorang hamba datang menjumpai-Nya disertai tauhid, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, meski dia membawa dosa hampir memenuhi bumi, niscaya Allah SWT datang dengan ampunan yang memenuhi bumi pula. Di sinilah pentingnya kita selalu menjaga diri dari kesyirikan, kesyirikan kecil apalagi yang besar. [Yahya Abdurrahman]

Sabtu, 20 Juli 2013

Kesempurnaan Karakteristik Islam


Kesempurnaan  Islam/Karakteristik Islam

Agama adalah panutan dan pedoman hidup bagi pemeluknya, sandaran dan pijakan untuk mengambil keputusan dan memecahkan berbagai problematika kehidupan. Dan pastinya setiap agama mempunyai karakteristik ajaran yang membedakan dari agama-agama lain. Agama yang didakwahkan secara sungguh-sungguh diharapkan dapat menyelamatkan dunia yang terpecah-pecah dalam berbagai bagian serta menyelamatkan kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Permasalah hidup yang komplit syarat dengan perpecahan, baik perpecahan sara maupun masalah kehidupan saling mengintai serta berbagai krisis yang belum diketahui bagaimana cara mengatasinya.
Tidak mudah membahas karakteristik ajaran Islam, karena ruang lingkupnya sangat luas, mencakup berbagai aspek kehidupan umat Islam. Untuk mengkaji secara rinci semua karakteristik ajaran Islam perlu ditelusuri, mulai dari risalah Allah terakhir dan menjadi agama yang diridhai Allah, untuk dunia dan seluruh umat manusia sampai datangnya hari kiamat.
Islam adalah agama yang memiliki karakteristik yang khusus dan sempurna, karena ia diturunkan dari yang Maha sempurna. Allah Swt. menurunkan Islam semata-mata untuk mengangkat, meninggikan, memuliakan, dan menyempurnakan hamba-hamba-Nya, karena Ia tidak memiliki kepentingan (vested interest) sedikitpun atas manusia.
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, adalah agama yang  sempurna sebagai mana firman Allah  Azza Wa Jalla menurunkan surat al-Maidah (5) ayat 3, yang artinya; Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan Kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu.
Dari ayat diatas dapat dipahami karasteristik ajaran Islam sebagai berikut:
Pertama kaamil dan saa’ah artinya sempurna dan luas, maksutnya yaitu islam mencakup seluruh aspek kehidupan, sebagai Aqidah ruqiyah dan aqidah syiasiyah, mencakup hubungannya dengan al khaliq, hubungan sesame manusia, dan hubungan dengan dirinya sendiri.
Taqiyudin An Nabhani dalam kitab nidhomul Islam mendefinisikan sebagai berikut:
,”Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, SAW . untuk mengatur hubungan manusia dengan khaliqnya, dirinya sendiri, dan dengan sesame manusia,”.
Agar Islam ini terpelihara ajarannya dari perubahan dan tambahan-tambahan, maka seorang Muslim diwajibkan untuk berpegang teguh pada dua pusaka yang sangat mulia, yakni; al-Qur’an dan Hadits/Sunnah sebagai penjelasan nabi atas kandungan al-Qur’an, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. al-Nahl (16) ayat  44; yang artinya,
Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an agar Engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka berpikir.
Jadi sangat jelas bahwasanya manusia tidak membutuhkan lagi terkait dengan syariat ini, Rasulullah bersabda :
  ,”Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan agama(syariat) ini yang tidak berasal dari rasulullah maka dia akan tertolak,”.hadits dari A’isyah riwayat Bukhari hadits no 2499, Muslim Hadits no 3242, Abu Daut no 3990, Ibnu Majah no 14.
Firman Allah SWT, Yang artinya:
Apa kamu beriman kepada sebagian dari Al Kitab dan ingkar  kepada yang sebagian yang lain ? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan dengan siksaan yang sagat berat. QS. Al Baqoroh(2) ayat 85.
 Kedua Syaamil artinya menyeluruh. Diturukan untuk seluruh manusia. Allah berfirman, yang artinya :
Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Qs Saba’(34) ayat 28.
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmatan bagi semesta alam. QS Al Anbiyaa (21)107.
Ketiga Qudrat yang artinya mampu, yakni syariat islam diturunkan untuk menyelesaikan problematika manusia dan syariat mampu untuk itu. Caranya adalah dengan menerapkan syariat Islam  dengan masalah yang muncul, baik masalah individu, keluarga, masyarakat, Negara, maupun hubungan Negara antar Negara. Islam memecahkan segala problematika kehidupan yang muncul akibat permunculan naluri beragama (gharizatul tadayun) melalui pengaturan jenis cara beraqidah dan beribadah. Islam memecahkan problematika yang muncul akibat naluri melangsungkan keturunan ( gharizatul mau’) pada manusia melalui aturan perkawinan, perwalian, dan aturan keluarga yang lain. Demikian juga Islam juga menyelesaikan problematika manusia yang muncul akibat naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa’) termasuk naluri memiliki (gharizatul tamaluk) dengan aturan ekonomi, politik, hubungan antar Negara dan lain-lain.
Keempat Nikmat yang sempurna diberikan Allah kepada manusia dengan memeluk Islam, meninggalkan Islam berarti meninggalkan nikmat. Allah berfirman:
Maka jika dating padamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya sesungguhnya penghidupan yang sempit, dan kami akn menghimpunkanya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, Ya Rob-Ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadan buta, padahal aku dahulunya  adlah seorang yang melihat.   Allah Berfirman, “demikianlah, telah dating padamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamupun dilupakan,”. Qs Thaha (20) Ayat 123-126.
Kelima Ridha, Allah telah ridho dengan Islam dan hanya dengan Islam, menjadikan umat Muhammad.Allah berfirman :
Sesungguhnya agama yang diridhoidisisi Allah  hanyalah IslamQs Ali Imron (3) ayat 19
Dan barang siapa mencari agama selain dari pada Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu)dari padanya.dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. Qs Ali Imran (3) ayat 85.
Kata Islam adalah kata yang mutlak, merupakan kata yang merujuk dari agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan jelas disebut kafir (tidak beriman) yang tidak mengimaninya risalah Nya,  dan Allah akan memasukkanya kedalam neraka. Allah berfirman:
Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang nyala-nyala. Qs Al Fath (48) ayat 13.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik ( akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal didalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.. Qs Al Bayyinah (98) ayat 6.
Keenam Allah yang menciptakan manusia, mengetahui yang baik bagi manusia dan yang buruk bagi manusia. Allah berfirman :
Dan sesunhgguhnya kami yang menciptakan manusiadan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, Qs Qaaf (50) ayat 16
Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan atau kamu rahasiakan)dan Dia maha Halus dan Mengetahui Qs Al Mulk (67) ayat 14.
Ketujuh syariat Islam datang kepada Nabi Muhammad sebagai syariat Ilahiyah yang sempurna, menyempurnakan syariat sebelunnya sekaligus menghapus syariat sebelumnya dan tidak ada  lagi syariat ilahiyah setelahnya. Allah berfirman :
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah rasulullah dan penutup para nabi-nabi, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu. QS Al Ahzab (33) ayat 40.
Rasulullah juga bersabda : tidak ada nabi setelahku.
Kedelapan, Allah tidak membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya, orang arab tidak berbeda dengan orang non arab, orang kulit putih tidak berbeda denan kulit hitam, demikian pula tidak beda antara laki-laki dengan wanita. Allah berfirman :
Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Qs Al Hujarat (49) ayat 13
Rasulullah bersabda :
Tidaklah lebih utama orang arab atas orang ajam (non arab) dan tidak lebih utama orang berkulit merah dibandingkan dengan orang berkulit hitam kecuali karena taqwanya.
Disamping itu Islam juga memiliki karakteristik unik dan spesifik. Unik, yaitu Islam memiliki aturan yang berbeda dengan yang lain. Sedangkan spesifik, yaitu bahwa Islam memiliki tata cara dan aturan tertentu yang hanya dimunculkan dari Islam serta berdasarkan kaidah Islam saja, baik dalam urusan aqidah maupun syariah.
Didalam masalah aqidah Islam memiliki hokum-hukum terkait dengan aqidah yang berbeda dengan aqidah agama –agama yang lain.  Aqidah Islam mengharuskan seseorang untuk menyakini adanya Allah dengan segala sifatnya, sebagai khaliq dan pengatur seluruh alam semesta. Mengharuskan seseorang untuk menyakini apa yang datang dari Allah (Al Quran), menyakini dan membenarkan rasulullah Muhammad SAW dan segala hukumnya berasal darinya.
Hokum Islam tentang aqidah telah menetapkan bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah dan rasulnya disebut kafir. Atau orang - orang yang menyembunyikan kekafirannya dan lahirnya sebagai seorang muslim dikatagorikan sebagai munafik. Dan bagi mereka yang murtad dihukumi riddah ( hukuman mati).
Berkaitan dengan ibadah, maka Islam memiliki cara yang berbeda dengan agama manapun, oleh karena itu tidak boleh seorang muslim beribadah dengan mengunakan cara ibadah orang- orang non muslim.
Hokum –hukum yang berkaitan dengan dirinya sendiri  Islam berbeda dengan yang lainya, seperti makanan yang halal dan haram bagi seorang muslim, cara dan aturan berpakaian bagi seorang muslim dan muslimah. Demikian pula aturan-aturan Islam beda dengan aturan dan system yang lain( yang memiliki system dan aturan), dengan berkaitanya  rumah tangga, social, ekonomi, dan pemerintahan. System ekonomi Islam berbeda dengan system ekonomi kapitalisme maupun system ekonomi sosialisme. Demikian pula system hokum (sangsi) dan pemerintahan Islam berbeda dengan system hukum  dan pemerintahan dalam ideology kapitalis dan sosialis. Oleh karena itu tidak menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk hanya mengambil Islam dan meninggalkan yang lain atau kata lain,” fasli din ‘anil khayah,”( pemisahan agama dari kehidupan), maksudnya adalah masalah agama diatur agama dan masalah kehidupan diatur oleh aturan buatan manusia.